Luwu Timur, Luwurayapos.com – Aksi penuntutan pemekaran Provinsi Luwu Raya kembali digelar oleh mahasiswa dan pemuda Luwu Timur pada Senin, 9 Februari 2026.
Aksi ini berlangsung sejak siang hingga malam hari sebagai wujud komitmen untuk terus menyuarakan dan memperjuangkan terbentuknya Provinsi Luwu Raya.
Ketua HAM Lutim, Iksar, dalam keterangannya menyampaikan bahwa teman-teman akan terus konsisten mengawal perjuangan pemekaran. Aksi dimulai di depan Terminal Tarengge dan pada malam harinya dilanjutkan di Pertigaan Tarengge.

“Mahasiswa Luwu Timur dan pemuda akan terus mengawal perjuangan ini sampai pemekaran benar-benar terwujud,” tegasnya.
Tuntutan pemekaran kembali disuarakan setelah beberapa hari sempat meredup. Massa aksi yang tergabung dari wilayah Kecamatan Wotu, Malili, Tomoni, dan Towuti (Womantorau) turun ke jalan dengan melakukan aksi demonstrasi menggunakan metode buka-tutup Jalan Trans Sulawesi.
Aksi ini merupakan kelanjutan dari perjuangan panjang masyarakat Luwu untuk membentuk Provinsi Luwu Raya yang telah berlangsung kurang lebih satu bulan terakhir.
Sementara itu, Sabriadi selaku Jenderal Lapangan (Jendlap) dalam orasi ilmiahnya menyampaikan bahwa aksi kali ini menjadi sinyal kuat kepada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat bahwa perjuangan Wija To Luwu belum berhenti sebelum tuntutan tersebut terpenuhi.
Ia juga menegaskan bahwa anggapan yang menyebut Luwu Timur tidak mendukung pemekaran Provinsi Luwu Raya adalah informasi yang tidak benar.
Hal senada disampaikan Wakil Jenderal Lapangan (Wajendlap), Firman, yang merupakan Pengurus Pusat HAM-LUTIM Batara Guru. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus menyuarakan tuntutan pemekaran tersebut.
“Kami akan terus menyuarakan pemekaran ini, karena bagi kami, pemekaran Provinsi Luwu Raya adalah harga mati bagi seluruh Wija To Luwu,” tegas Firman.
Ia menambahkan, setelah aksi ini, massa akan terus mengawal perjuangan agar tuntutan pembentukan Provinsi Luwu Raya benar-benar dapat terwujud.
Musdiana/LRP














