Luwurayapos.com, Luwu Timur – Menindak lanjuti hasil rapat terkait penanganan tanggul Sungai pawosoi yang jebol di Desa Alam Buana, kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur pada tanggal 19 Maret 2025 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU PR) melakukan perbaikan tanggul Sungai Pawosoi yang jebol. Namun, derasnya kiriman banjir dari hulu sungai berkali-kali memaksa pekerjaan terhenti, seolah alam pun turut menantang upaya penyelamatan ini.
Kepala Dinas (PU PR) Sayahmuddin melakukan peninjauan langsung ketitik Lokasi pekerjaan tanggul Sungai pawosoi yang ada di Desa Alam Buana, Selasa (13/05/2025)

Dalam kunjungannya Sayahmuddin kepala Dinas (PU PR) meyampaikan bahwa “Kita sudah antisipasi dan mulai melakukan perbaikan tanggulnya sejak sebulan lalu,” ungkap Kepala Dinas PU PR dengan nada prihatin. “Penimbunan tanggul yang jebol sudah lumayan panjang dan tersambung dengan tanggul lama. Sayangnya, volume air dari hulu yang sangat besar membuat pekerjaan ini terus terkendala.”
Koordinasi dengan Balai Sungai Pompengan Jeneberang terkait perizinan telah membuahkan hasil positif, memberikan lampu hijau bagi warga dan tim untuk bergerak. Namun, izin saja tak cukup kuat membendung amukan air bah yang datang tanpa ampun.
Saleh, penanggung jawab kegiatan di lapangan, mengungkapkan bahwa material yang tersedia baru separuh dari rencana awal. “Sesuai perencanaan, kita membutuhkan sekitar 11 ribu kubik material. Saat ini, baru separuhnya yang bisa kita kerjakan,” jelasnya.
Keputusasaan mulai terlihat di wajah para pekerja saat banjir kiriman keempat kali ini kembali datang. “Sungai Pawosoi ini sudah banjir kiriman dari hulu sebanyak empat kali,” lanjut Saleh. “Apa yang kita kerjakan kemarin belum mencapai hasil maksimum ketinggian. Kami hanya bisa menunggu air surut untuk melanjutkan penimbunan.”
Meski demikian, asa tak sepenuhnya padam. Metode terakhir yang akan diterapkan adalah fokus mengejar ketinggian maksimum tanggul secara bertahap. “Kita pelan-pelan, yang penting ketika datang banjir-banjir susulan, tanggul ini bisa menahan air,” harap Saleh.

Kepala Desa Alambuana I made redo turut menyampaikan keprihatinannya. “Kita sebenarnya ingin menyelesaikan target pembangunan tanggul yang jebol. Tapi kondisi sungai yang tidak mendukung akibat kiriman banjir dari hulu sungai membuat pekerjaan ini sangat terhambat.”
Dampak dari banjir kiriman ini sudah terasa nyata. Kurang lebih 70 hektar sawah milik petani dengan tanaman yang baru berumur satu bulan terendam air dan terancam gagal panen. Kekhawatiran juga membayangi desa tetangga, yang berpotensi mengalami nasib serupa jika kondisi sungai tak kunjung membaik.
Liputan : LRP














