banner 720x90

Yusriadi: Jurnalis Harus Mampu Mengubah Program Menjadi Cerita, Angka Menjadi Makna

Luwu Timur, Luwurayapos.com – Pemateri ketiga dalam kegiatan Pengembangan Kompetensi Jurnalis Media Partner Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Yusriadi, menegaskan pentingnya kemampuan jurnalis dalam mengubah berita pembangunan yang kaku menjadi kisah yang hidup dan bermakna.

Melalui materinya bertema “Storytelling Pembangunan dan Penulisan Berita Humanis – Dari Program Menjadi Cerita, dari Angka Menjadi Makna”, Yusriadi mengajak para jurnalis untuk menghadirkan sisi manusia dalam setiap berita pembangunan yang mereka tulis.

“Banyak berita pembangunan hanya berhenti pada laporan angka dan data. Padahal, di balik angka itu ada manusia, perjuangan, dan perubahan nyata. Di situlah tugas jurnalis — mengubah program menjadi cerita, dan angka menjadi makna,” ujar Yusriadi dalam pemaparannya di hadapan peserta pelatihan pada (11/11/2025)

Menurut Yusriadi, storytelling bukan sekadar gaya menulis, tetapi merupakan pendekatan komunikasi yang mampu mendekatkan pesan pembangunan dengan hati masyarakat.
Ia menjelaskan, setiap program pemerintah memiliki potensi cerita yang kuat jika dikemas dengan empati dan pemahaman akan dampaknya bagi manusia.

“Tulisan yang baik bukan hanya memberi tahu apa yang terjadi, tetapi juga membuat pembaca merasa hadir di tengah masyarakat yang merasakan perubahan itu. Gunakan tokoh, konflik, proses, dan makna untuk menghidupkan berita pembangunan,” ungkapnya.

Dalam paparannya, Yusriadi juga mencontohkan bagaimana jurnalis dapat mengangkat kisah sederhana dari warga penerima manfaat program pemerintah — seperti petani, nelayan, ibu rumah tangga, atau pelajar — untuk menggambarkan dampak nyata dari kebijakan publik.

“Ketika seorang ibu tersenyum karena rumahnya kini layak huni berkat program pemerintah, di situlah jurnalis menemukan esensi berita pembangunan yang sesungguhnya,” tambahnya.

Lebih jauh, Yusriadi mengingatkan bahwa berita humanis tidak berarti meninggalkan data atau objektivitas jurnalistik.
Sebaliknya, jurnalis justru harus mampu memadukan fakta dengan narasi kemanusiaan, agar berita tetap kredibel sekaligus menyentuh sisi emosional pembaca.

“Data penting untuk keakuratan, tapi tanpa manusia di dalamnya, berita hanya menjadi laporan kering. Tugas kita adalah menjembatani data dan rasa — itulah jurnalisme yang bermakna,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa jurnalis media partner pemerintah memiliki tanggung jawab ganda: menyampaikan informasi pembangunan dengan benar, sekaligus memastikan pesan yang disampaikan memberi inspirasi dan harapan bagi masyarakat

Kegiatan yang difasilitasi oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Luwu Timur ini mendapat respons positif dari peserta.
Para jurnalis mengaku mendapat banyak wawasan baru tentang cara menulis berita pembangunan yang tidak sekadar formal, tetapi juga menggugah dan membangun kedekatan emosional dengan pembaca.

“Materi dari Pak Yusriadi membuka wawasan kami tentang bagaimana menulis berita pemerintah dengan gaya yang lebih hidup dan menyentuh. Ini sangat bermanfaat untuk memperkuat citra positif daerah tanpa kehilangan nilai jurnalistik,” ujar salah satu peserta.

Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur berharap jurnalis mitra dapat menjadi penyambung cerita pembangunan yang tidak hanya melaporkan capaian, tetapi juga menggambarkan perubahan kehidupan masyarakat.
Yusriadi menutup materinya dengan pesan singkat namun bermakna:

“Tulislah dengan hati, karena pembangunan sejati bukan hanya tentang angka yang naik, tapi tentang manusia yang hidup lebih baik.”

Musdiana/Lrp

banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90

You cannot copy content of this page