Luwurayapos.com, Luwu Timur — Kematian adalah kepastian mutlak bagi setiap makhluk bernyawa. Dalam khutbah kedua Shalat Jum’at (30/05/2025), jamaah kembali diingatkan akan hakikat kematian sebagai peringatan terbesar bagi manusia untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan abadi di akhirat.
Mengutip sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “La ilaha illallah, sungguh kematian itu memiliki banyak rasa sakit…” (HR. al-Bukhari), dijelaskan bahwa detik-detik menjelang kematian bukanlah hal yang ringan. Bahkan, sebagian ulama menyebut sakaratul maut lebih menyakitkan daripada tebasan seribu pedang.
Dalam khutbah itu juga dikisahkan pengalaman seorang hamba saleh dalam mimpi setelah wafatnya, sebagaimana dinukil dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah. Ia menggambarkan bahwa rasa sakit saat ruh dicabut lebih perih daripada direbus dalam air mendidih atau digergaji tubuhnya berkali-kali. Peringatan ini mengajak manusia untuk senantiasa memperbaiki diri dan memperbanyak taubat.
Ustad Wahyunis Waru, S.H., turut mengingatkan jamaah akan firman Allah SWT:
“Sesungguhnya kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kenikmatan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185).
Ayat ini menjadi pengingat agar manusia tidak terlena oleh gemerlap dunia yang sifatnya fana. Kekayaan, jabatan, dan kemewahan dapat melalaikan manusia dari tujuan hakiki: keselamatan di akhirat.
Meskipun menyakitkan, kematian adalah pintu menuju kehidupan kekal. Di akhirat, seluruh amal akan dibalas secara sempurna. Kesuksesan sejati, menurut Al-Qur’an, bukan diukur dari pencapaian duniawi, melainkan keselamatan dari neraka dan masuk ke surga. Sebagaimana firman Allah:
“Maka siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah meraih kemenangan.” (QS. Ali Imran: 185).
Empat Pesan Allah tentang Kematian
- Setiap jiwa pasti akan merasakan mati
- Balasan sejati akan diberikan pada Hari Kiamat.
- Keselamatan dari neraka dan masuk ke surga adalah kemenangan hakiki
- Kehidupan dunia hanyalah kenikmatan yang menipu.
Khutbah ditutup dengan ajakan kepada para jamaah untuk merenung, memperdalam keimanan, dan menjadikan peringatan kematian sebagai momentum memperbaiki amal. Kematian disebut dalam Al-Qur’an sebagai al-yaqin—sebuah kepastian yang tak bisa dihindari. Maka jangan tunda amal kebaikan dan perkuat iman, karena waktu tidak akan menunggu.
Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima peringatan ini dan membimbing kita menuju kehidupan yang diridhai-Nya.
(Red-LRP)














