banner 720x90

Puasa, Lailatul Qadar, dan Kesadaran Sosial: Momentum Menumbuhkan Solidaritas di Tengah Masyarakat

Makassar, Luwurayapos.com – Bulan suci Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah yang bersifat spiritual antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga sebagai momentum untuk membangun kesadaran sosial di tengah masyarakat. Melalui ibadah puasa, umat diajak untuk memahami nilai kesetaraan, merasakan penderitaan sesama, serta menumbuhkan solidaritas sosial.

Penulis Andika Pratama Putra dalam refleksinya menyampaikan bahwa puasa mengajarkan pengalaman yang menyamakan manusia. Saat lapar dan dahaga dirasakan, perbedaan status sosial seakan runtuh. Orang kaya maupun orang miskin merasakan sensasi yang sama.

Namun dalam realitas sosial, menurutnya, tidak semua orang mengalami lapar hanya dari fajar hingga magrib. Bagi sebagian masyarakat seperti buruh, petani kecil, dan kaum miskin di perkotaan, rasa lapar kerap menjadi kenyataan yang lebih panjang bahkan tidak mengenal waktu berbuka.
Karena itu, puasa tidak seharusnya berhenti pada kesalehan pribadi semata.

Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk membangun kesadaran kolektif bahwa penderitaan sosial tidak boleh ditanggung sendirian. Tradisi berbuka puasa bersama, berbagi makanan, hingga membantu mereka yang membutuhkan menjadi simbol penting bahwa manusia tidak seharusnya hidup dalam individualisme.

Selain itu, puasa juga mengajarkan pengendalian diri, termasuk menahan keserakahan dan konsumsi berlebihan. Nilai ini diyakini dapat menjadi dasar lahirnya masyarakat yang lebih adil, di mana kehidupan tidak dibangun di atas eksploitasi, tetapi atas kebersamaan dan tanggung jawab sosial.

Refleksi tersebut semakin dalam ketika Ramadan memasuki malam paling istimewa, yakni Lailatul Qadar, yang dalam ajaran Islam disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Secara spiritual, malam ini dimaknai sebagai turunnya wahyu yang membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Namun secara sosial, Lailatul Qadar juga dapat dimaknai sebagai momentum kesadaran untuk merenungkan berbagai ketimpangan dan ketidakadilan yang masih terjadi di tengah masyarakat.

“Keberkahan sejati tidak hanya terletak pada doa-doa yang dipanjatkan, tetapi juga pada tindakan nyata untuk menghadirkan kehidupan yang lebih adil bagi semua,” ungkap Andika 10/3/2026

Ia menegaskan bahwa mencintai kemanusiaan merupakan bagian dari nilai Islam yang hakiki. Dengan merawat solidaritas sosial, masyarakat diharapkan dapat memastikan tidak ada yang tertinggal dalam kelaparan maupun ketidakadilan.

“Pada akhirnya kita mencintai hidup bukan karena terbiasa hidup, tetapi karena kita terbiasa mencintai,” tutupnya.

Penulis: Andika Pratama Putra

banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90 banner 720x90

You cannot copy content of this page