Luwu Timur, Luwurayapos.com – Tren pernikahan di kalangan generasi muda mengalami pergeseran signifikan. Generasi Z (Gen Z) kini lebih memilih menunda pernikahan, bukan karena menghindari komitmen, melainkan demi mencapai stabilitas mental dan finansial.
Jika beberapa dekade lalu menikah di usia awal 20-an dianggap sebagai pencapaian atau standar kedewasaan, kini pandangan tersebut mulai berubah. Gen Z yang tumbuh di era digital justru lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar seperti pernikahan.
Salah satu faktor utama adalah keinginan untuk memutus siklus trauma masa lalu. Banyak dari mereka yang tumbuh dengan menyaksikan konflik keluarga, pola asuh otoriter, hingga tekanan ekonomi. Kondisi ini mendorong mereka untuk melakukan proses penyembuhan diri (inner healing) sebelum membangun rumah tangga.
“Menikah dalam kondisi mental yang belum siap justru berpotensi mewariskan trauma baru ke generasi berikutnya,” menjadi salah satu pandangan yang berkembang di kalangan Gen Z. Mereka kini lebih memprioritaskan kesehatan mental dan pengembangan diri dibanding sekadar memenuhi tuntutan sosial.
Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan besar. Tingginya biaya hidup di tahun 2026, harga properti yang sulit dijangkau, hingga ketidakpastian karier membuat banyak anak muda memilih untuk lebih dulu membangun kemandirian finansial.
Menikah tanpa kesiapan ekonomi dinilai dapat menimbulkan tekanan mental. Oleh karena itu, sebagian Gen Z memilih menikah di usia yang lebih matang, seperti sekitar 30 tahun, dengan kondisi finansial yang lebih stabil dibanding menikah muda namun diliputi kecemasan ekonomi.
Di sisi lain, Gen Z juga mulai kritis terhadap romantisasi pernikahan dini yang marak di media sosial. Narasi seperti “menikah muda itu ibadah” atau “pacaran halal” tidak lagi diterima mentah-mentah. Mereka belajar dari berbagai kasus perceraian dini yang sering berawal dari keputusan impulsif.
Generasi ini kini lebih menekankan kualitas hubungan dibanding sekadar status. Mereka mencari pasangan yang dapat menjadi rekan diskusi dan tumbuh bersama, bukan hanya pelengkap identitas formal.
Berdasarkan data rata-rata usia menikah, di wilayah perkotaan pria cenderung menikah pada usia 27–31 tahun dan wanita 25–28 tahun. Sementara di pedesaan, pria menikah pada usia 24–26 tahun dan wanita 21–24 tahun, dengan rata-rata nasional sekitar 26,8 tahun untuk pria dan 24,1 tahun untuk wanita.
Kesimpulannya, keputusan Gen Z untuk menunda pernikahan bukanlah bentuk ketakutan, melainkan cerminan kedewasaan dalam mempersiapkan masa depan. Mereka memandang pernikahan bukan sebagai pelarian dari kesepian atau tekanan sosial, melainkan sebagai tujuan hidup yang harus direncanakan secara matang.
Pada akhirnya, stabilitas mental dan kesiapan diri menjadi fondasi utama dalam membangun rumah tangga yang sehat dan berkelanjutan.
Penulis/ Alvina Damayanti
Penerbit/LRP













