Luwu Timur, Luwurayapos.com – Pemilik dan pengelola SPBU se-Kabupaten Luwu Timur telah menandatangani komitmen bersama untuk memperketat penyaluran BBM bersubsidi, menegakkan SOP, serta meningkatkan kenyamanan masyarakat.
Namun, komitmen tersebut kini kembali diuji oleh realitas pelayanan di lapangan.
Pantauan Luwurayapos.com di SPBU Tomoni, Jumat (18/9/2026), masih menemukan adanya kendaraan yang berulang masuk untuk melakukan pengisian BBM, sementara kendaraan lainnya harus bertahan dalam antrean panjang untuk menunggu giliran.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena salah satu poin dalam komitmen bersama pemilik SPBU adalah menjalankan pelayanan secara profesional sesuai SOP serta melakukan evaluasi internal untuk mengurangi antrean dan mencegah potensi konflik di area SPBU.
Di atas kertas, komitmennya sudah tegas. Tetapi di antrean, masyarakat masih melihat cerita yang berbeda.
Sejumlah masyarakat mempertanyakan bagaimana antrean dapat tertib dan berkurang apabila kendaraan yang sama masih terlihat kembali masuk melakukan pengisian BBM ketika kendaraan lain masih menunggu.
“Bagaimana antrean tidak panjang kalau kendaraan yang sama masih dilayani berulang? Bukan hanya soal BBM, tetapi soal menghargai orang lain yang sudah menunggu,” menjadi sorotan masyarakat di lokasi.
Masyarakat juga berharap keberadaan petugas pengawasan di SPBU dapat memastikan aturan diterapkan secara konsisten kepada seluruh pengguna kendaraan, tanpa memberikan ruang bagi praktik yang dapat merugikan pengguna lainnya.
Persoalannya sederhana: semua ingin mendapatkan BBM, tetapi semua juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan secara tertib.
Ketika antrean panjang, kesadaran untuk tidak kembali masuk setelah melakukan pengisian menjadi bagian penting dalam menjaga ketertiban.
Sebab, antrean tidak akan pernah selesai jika setiap orang merasa memiliki alasan untuk mendapatkan giliran lebih dari sekali.
Komitmen bersama yang telah ditandatangani pemilik SPBU pada 15 September 2026 tentu menjadi langkah penting. Namun, masyarakat berharap komitmen tersebut tidak berhenti sebagai dokumen yang tersimpan rapi.
Karena komitmen paling mudah dibaca di atas kertas. Yang sulit adalah membuktikannya ketika antrean sedang panjang dan semua orang sama-sama ingin dilayani lebih dulu.
Masyarakat kini menunggu satu hal: bukan sekadar komitmen, tetapi konsistensi di lapangan.
Musdiana/LRP













